Ngokos.id- Sebelum ditemukan mati mengenaskan. Prabangsa, wartawan Radar Bali, sempat bilang takut pada jendela yang terbuka. Bila ada jendela yang terbuka di kantornya. Cepat-cepat Prabangsa menutupnya.
Prabangsa fobia. Hatinya kerap takut ada yang menembaknya bila jendela terbuka. Ucapan itu mulanya hanya dianggap candaan oleh rekan-rekan sekantornya.
16 Februari 2009. Rekan-rekannya sadar, Fobia jendela itu bukan candaan. Hari itu, Prabangsa ditemukan tewas, mengambang di perairan Teluk Bungsil di Kabupaten Karangasem. Tangannya terikat. Penemunya seorang nahkoda bernama Muhari.
Jasad itu lalu di rumah sakit untuk divisum. Di kantong celana sebelah kiri ada dompet. Isinya aneka kartu identitas, mulai dari KTP sampai ATM. Semuanya atas nama Prabangsa. Hasil visum pun mengejutkan: Prabangsa dianiaya dan dia masih hidup ketika dihanyutkan ke laut.
Untuk memperkuat visum itu. Jasad Prabangsa dibawa ke rumah sakit lain. Divisum lagi. Kesimpulannya sama. Polisi pun memulai penyelidikan.
Penyelidikan di tingkat Polres itu tak mampu mengungkap motif pembunuhan Prabangsa. penyelidikan sempat mengarah ke motif asmara. Tapi buktinya lemah sekali.
Tak puas dengan penyelidikan itu.
AJI Denpasar disokong AJI Indonesia membentuk tim untuk menyelidiki lebih jauh. Tim itu tidak hanya wartawan. Banyak tokoh masyarakat, pejabat, hingga preman pun bergabung membantu mengungkap kematian Prabangsa.
Mula-mula Mereka menelisik berita-berita yang ditulis Prabangsa. Hasilnya ada tiga berita tentang dugaan penyimpangan proyek di dinas pendidikan Kabupaten Bangli tempat lahir Prabangsa.
Setelah menelusuri ke berbagai sumber, proyek-proyek yang ditulis Prabangsa ternyata ditangani I Nyoman Susrama, seorang kontraktor dan adik Bupati Bangli saat itu.
Tim AJI lalu dapat informasi, bahwa Susrama sempat buru-buru mengirimkan satu kijang rangrover ke adiknya di Jogjakarta yang bekerja di dinas perhubungan.
Info lain, Susrama baru-baru ini, menggelar upacara adat, mengusir roh jahat di salah satu rumahnya. Menurut warga sekitar, hal itu tidak lazim karena rumah jarang di tempati.
Meski tak menemukan kaitan langsung temuan itu dengan kematian Prabangsa.
Tim AJI berkonsultasi dengan polisi, kali itu dengan Polda Bali. Kapolda Bali saat itu langsung membentuk tim khusus, menyelidiki lagi kematian Prabangsa.
Polisi langsung memeriksa Susrama. Juga menggeledah rumahnya. Ada temuan baru. Di pekarangan belakang rumahnya polisi menemukan bercak darah yang telah mengering. Tapi bukti itu belum cukup.
Polisi pun ke Jogjakarta. Memburu kijang rangrover itu. Dengan susah payah berhasil menemukannya meski telah berganti warna dan plat nomor. Mobil itu diperiksa, di bagasi belakang, di karpetnya, polisi juga bercak darah.
Dua sample darah itu diteliti.
Hasilnya mengejutkan golongan dan DNAnya dengan darah milik Prabangsa. Polisi pun menangkap Susrama. Juga beberapa orang dekatnya yang menganiaya Prabangsa. Terungkaplah bagaimana Prabangsa dihabisi.
11 Februari 2009, di hari dia dinyatakan hilang, Prabangsa dijemput oleh orang suruhan Susrama. Dia dibawa menghadap Susrama. Susrama tak suka karena Proyeknya diganggu dengan berita.
Prabangsa dibawa ke pekarangan Belakang. Tangannya diikat. Disitu dia dianiaya. Ditendang, dipukul dan kepalanya dihantam balok tiga kali.
Prabangsa yang sudah tak berdaya lalu dimasukkan ke dalam kijang rangrover itu. Kemudian dibawa ke teluk Bangsil dan dibuang ke laut meski masih hidup. Enam hari kemudian, jasadnya ditemukan oleh kapal yang dinahkodai Muhari itu.
Dipersidangan, Susrama divonis penjara seumur hidup. Tersangka lain ada yang 5 tahun atau 10 tahun penjara. Vonis Susrama lebih ringan dari tuntutan jaksa yaitu Hukum Mati. Ini adalah kasus pertama pembunuhan wartawan yang diungkap sampai tuntas.
Betapa sulit mengungkap kasus itu. Namun di era Presiden Joko Widodo, Susrama yang dulu kader PDIP, mendapat remisi. Dari seumur hidup menjadi 20 tahun penjara. Betapa mudahnya. Begitu gampangnya.


0 Comments