Guncangan politik ditubuh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) semakin hari kian membesar. Selain di internal DPP antara Presiden PKS dan Fakhri Hamzah, keretakan itu juga terjadi sampai ke pengurus tingkat daerah.
Mulanya terjadi di Bali. Para pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS Bali ramai-ramai mengundurkan diri dari kepengurusan maupun sebagai kader partai, Jumat (28/9).
Kompas.com menulis, mereka beramai-ramai mendatangi kantor PKS di Jalan Tukad Ho, Renon, Kota Denpasar, sambil membentangkan spanduk bertuliskan "Seluruh Kader dan Pengurus PKS se-Bali Mengundurkan Diri" di halaman kantor.
Selanjutnya, prahara PKS berlanjut ke DPC PKS Sukodono, Sidoarjo. Seluruh pengurus DPC PKS Sukodono, memilih mundur. Seperti ditulis jppn.com, pemicunya adalah kebijakan baiat ulang agar setia kepada PKS.
Ketua DPC PKS Sukodono, Mundzir menolak berbaiat ulang dan berjanji setia. Alasannya, setiap kader PKS memegang rasa saling percaya. Dengan kebijakan itu, mereka merasa dilecehkan karena tidak ada rasa percaya.
Tidak berhenti disitu, kemarin puluhan orang berstatus Pengurus dan Kader dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Binjai secara berjemaah menyatakan diri mundur dari jabatan struktural dan kader partai.
Secara simbolis pengunduran diri mereka lakukan dengan membuka baju partai kebanggaan, dan meletakkan Kartu Tanda Anggota, di kafe Kutaraja, Kebun Lada, Binjai Utara, Sabtu (20/10).
Ketua DPD PKS Kota Binjai, Fitra Syamsurizal menegaskan dirinya dan 50-an pengurus inti PKS mengundurkan diri berjamaah.
Sikap ini dengan berat hati dipilih, setelah mencermati dinamika internal yang terjadi dalam setahun terakhir di PKS dan memuncak saat pencopotan delapan dari sembilan Dewan Pimpinan Tingkat Wilayah PKS Sumut.
"Saya, Ketua DPD PKS Kota Binjai beserta kader dan jajaran pengurus menyampaikan respon menyikapi konflik yang terjadi. Terjadi pembelahan yang sangat serius di internal PKS dan kebijakan yang diambil DPP justru mempertajam pembelahan . Konflik sudah berbahaya dan kekhawatiran kami malah menjurus ke personal dan merusak Ukhwah Islamiyah sesama kader PKS," tegasnya seperti ditulis tribun-medan.com.
Mungkinkah prahara ini cukup sampai disini atau masih mungkin terus berlanjut lagi hingga pemilihan presiden dan pemilihan legislatif 2019? Mari kita tunggu episode berikutnya. (*)


0 Comments